Foto : Ketua DPD Partai NasDem Kabupaten Bangli, Jero Gede Tindih.
Bangli
Ketua DPD Partai NasDem Kabupaten Bangli, Jero Gede Tindih, angkat bicara terkait isu kebocoran pungutan pariwisata yang belakangan menerpa Dinas Pariwisata Bangli dan ramai diperbincangkan di media sosial. Ia menegaskan, isu yang berkembang tidak sepenuhnya tepat jika dimaknai sebagai hilangnya uang hasil pungutan.
Menurutnya, kebocoran yang dimaksud lebih mengarah pada belum tergarapnya potensi pariwisata secara optimal, bukan pada dana yang sudah dipungut lalu hilang. Hal ini perlu diluruskan agar tidak menimbulkan persepsi keliru di tengah masyarakat.
“Yang disebut kebocoran itu bukan uang yang sudah masuk lalu hilang, tetapi kebocoran potensi pariwisata. Artinya, masih banyak peluang pendapatan daerah yang belum tergarap maksimal,” ujarnya.
Meski demikian, Jero Gede Tindih menegaskan pemerintah daerah tetap harus memperketat pengawasan terhadap pemungutan retribusi pariwisata. Monitoring yang ketat dan berkelanjutan dinilai penting untuk memastikan proses pemungutan berjalan sesuai aturan dan transparan.
“Pemerintah daerah harus lebih ketat melakukan monitoring. Kalau perlu dibantu dengan sistem yang lebih canggih, teknologi yang transparan dan mudah diawasi, sehingga potensi kebocoran bisa ditekan,” tegasnya.
Ia menilai Bangli memiliki potensi pariwisata yang sangat besar, bahkan disebut sebagai salah satu destinasi terbaik di Bali. Mulai dari Danau Batur, deretan air terjun di empat kecamatan, hingga kopi Kintamani yang sudah mendunia, semuanya merupakan aset berharga yang harus dikelola secara serius dan profesional.
Namun, potensi besar itu harus diimbangi dengan pembangunan yang memadai. Jero Gede Tindih menekankan pentingnya pembangunan infrastruktur, lingkungan yang bersih, serta jaminan keamanan dan kenyamanan bagi wisatawan.
“Kalau infrastrukturnya layak, lingkungannya bersih, aman, dan nyaman, investor akan tertarik berinvestasi di Bangli,” katanya.
Ia menyoroti persoalan kemacetan yang kerap terjadi di jalur menuju Kintamani dan Desa Wisata Penglipuran, terutama pada hari-hari tertentu. Kondisi ini, menurutnya, menjadi pekerjaan rumah serius yang harus segera dicarikan solusi.
“Sering sekali wisatawan ke Kintamani atau Penglipuran terjebak macet. Ini berarti pembangunan infrastruktur harus sejalan dengan pertambahan jumlah kendaraan dan kunjungan wisatawan,” ujarnya.
Dengan penataan yang baik, ia optimistis wisatawan tidak hanya datang sekali, tetapi ingin kembali dan tinggal lebih lama di Bangli. Hal ini pada akhirnya akan berdampak langsung pada peningkatan pendapatan daerah dan kesejahteraan masyarakat.
“Targetnya wisatawan merasa nyaman, ingin berulang kali ke Kintamani, betah berlama-lama di Bangli, dan terus kembali ke Bangli,” pungkas Jero Gede Tindih.



































