Foto : Anggota Komisi X DPR RI, Ratih Megasari Singkarru.
Jakarta
Anggota Komisi X DPR RI, Ratih Megasari Singkarru, menyoroti penurunan anggaran Perpustakaan Nasional (Perpusnas) yang dinilainya sangat drastis dan berpotensi mengancam keberlanjutan standar mutu literasi nasional.
“Penurunannya hampir 50 persen dibandingkan 2025. Dari sebelumnya sekitar Rp721 miliar, kini hanya Rp378 miliar. Ini penurunan yang betul-betul drastis,” ujar Ratih RDP Komisi X DPR RI dengan Kepala Perpusnas Aminudin Aziz, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (14/1/2026).
Legislator Fraksi Partai NasDem itu juga menilai struktur anggaran Perpusnas saat ini timpang dan membuat ruang gerak fiskal nyaris tidak ada. Ia menyebut lebih dari separuh anggaran terserap untuk belanja pegawai.
“Ruang gerak fiskalnya nyaris mati. Sekitar 55,6 persen hanya untuk belanja pegawai. Sisanya sekitar Rp167 miliar untuk belanja barang dan belanja modal,” tegasnya.
Ratih menggarisbawahi kondisi kritis pada dua unit strategis Perpusnas, yakni Pusat Pembinaan Pustakawan serta Direktorat Standardisasi dan Akreditasi, yang disebutnya tidak mendapatkan alokasi anggaran sama sekali.
“Padahal dua organ ini menjamin kualitas dan standar mutu literasi kita. Dengan kondisi seperti ini, saya ingin tahu mitigasinya seperti apa,” katanya.
Ia juga menyinggung beban tugas baru Perpusnas berupa pengelolaan ISSN yang dialihkan dari BRIN. Menurutnya, tanggung jawab strategis tersebut membutuhkan dukungan anggaran dan sumber daya yang memadai.
“Ini tugas strategis untuk memayungi terbitan berkala dan pengembangan ekosistem penerbitan. Tapi dengan anggaran yang tercekik, mitigasinya bagaimana?” ujar Ratih.
Lebih lanjut, Ratih memperingatkan potensi dampak serius dari keterbatasan anggaran tersebut, mulai dari terhambatnya bantuan literasi bagi masyarakat, meningkatnya risiko kerusakan naskah kuno dan koleksi langka, hingga ancaman terhadap fasilitas sejarah seperti UPT Perpustakaan Proklamator Bung Karno.
“Tanpa kegiatan preservasi dan alih media, risiko kerusakan berkelanjutan sangat besar,” tandasnya.
Meski demikian, Ratih tetap mengapresiasi komitmen Perpusnas yang dinilai masih berupaya menjalankan program strategis di tengah keterbatasan anggaran.
Ia berharap ada skema mitigasi dan peluang penambahan anggaran ke depan agar program literasi nasional tetap berjalan dan berdampak langsung kepada masyarakat.
“Kami ingin tahu mitigasinya agar kita bisa sama-sama berjuang. Mudah-mudahan ke depan bisa ada tambahan anggaran, sehingga program-program yang berdampak ke masyarakat tetap bisa dijalankan,” pungkasnya.



































