Foto: Anggota Komisi VI DPR RI Dapil Bali dari Partai NasDem, yang juga Ketua DPW NasDem Bali, Ir. I Nengah Senantara.
Jakarta
Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VI DPR RI dengan Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), Glenny H. Kairupan, berlangsung dinamis di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (1/12/2025). Pertemuan ini menjadi kesempatan pertama bagi Glenny memperkenalkan jajaran direksi baru sekaligus memaparkan evaluasi kinerja perusahaan, roadmap pengembangan usaha tahun 2026, hingga perkembangan proses restrukturisasi maskapai pelat merah tersebut.
Dalam rapat yang dipimpin oleh Komisi VI itu, sejumlah anggota dewan memberikan catatan tajam terkait keberlanjutan bisnis dan efektivitas penggunaan dana penyelamatan negara. Salah satu sorotan datang dari Anggota Komisi VI DPR RI Dapil Bali dari Partai NasDem, Ir. I Nengah Senantara.
“Pimpinan yang saya hormati, rekan-rekan Komisi VI yang saya hormati, begitu juga Pak Dirut, selamat atas penunjukan Bapak oleh Presiden sebagai Direktur Utama Garuda Indonesia yang baru,” ujar Senantara membuka pandangannya.
Ketua DPW NasDem Bali ini menilai bahwa penunjukan langsung Glenny oleh Presiden Prabowo Subianto mencerminkan tingkat urgensi kondisi Garuda Indonesia. “Rupanya, ketika Presiden turun langsung menunjuk seseorang, itu menandakan bahwa kondisi Garuda memang sedang tidak baik, sehingga diperlukan perhatian langsung dari Presiden,” katanya. Karena itu ia berharap Garuda kembali menjalankan fungsinya sebagai maskapai kebanggaan nasional, sesuai identitas dan simbol kebangsaan yang disandangnya.
Pengusaha sukses dengan tagline Senantara Peduli Senantara Berbagi itu memaparkan bahwa perjalanan Garuda selama satu dekade terakhir tak menunjukkan stabilitas. “Jika kita melihat data dari tahun 2015 sampai 2025, terdapat fluktuasi yang sangat besar terkait laba dan rugi Garuda Indonesia. Tahun 2015 hingga 2016, Garuda masih mencatatkan keuntungan positif. Tetapi mulai tahun 2017 sampai 2025, akumulasi kerugiannya sangat tinggi. Itulah sebabnya, sekali lagi, Presiden Prabowo turun langsung menunjuk Bapak sebagai Dirut Garuda,” ujarnya.
Ia juga menyinggung suntikan dana pemerintah sebesar Rp23,67 triliun ke Garuda dan Citilink. Dana tersebut digunakan untuk pemeliharaan pesawat, mendukung operasional, dan membayar berbagai kewajiban yang menumpuk.
Terkait suntikan dana terasbut, Senantara mengungkap keganjilan mengenai struktur biaya operasional dua maskapai di bawah Garuda Group. “Pertanyaan pertama, dari jumlah pesawat yang dimiliki Citilink dan Garuda, di mana Citilink memiliki 32 pesawat yang beroperasi dan Garuda ada 58. Tetapi mengapa biaya operasional di Citilink justru jauh lebih tinggi?” tanyanya.
Ia menambahkan, “Tadi disebutkan angka biaya Garuda sekitar 37%. Mengapa demikian, padahal jumlah pesawat Citilink lebih sedikit?”
Pertanyaan ini disampaikan menyoroti ketidakwajaran komposisi biaya pada anak usaha yang sejatinya beroperasi sebagai maskapai berbiaya rendah (LCC).
Senantara juga mempertanyakan kejelasan rencana pemulihan Garuda pasca suntikan dana jumbo. “Dengan suntikan dana Rp23,67 triliun tersebut, menurut Bapak, sampai tahun ke berapa Garuda dapat menjadi established, dalam arti minimal tidak merugi?” katanya.
Ia mengingatkan risiko munculnya permintaan tambahan modal jika roadmap pemulihan tidak matang. “Karena jika tidak ada mapping yang memadai, akan ada risiko permintaan tambahan modal lagi tahun depan… Kami ingin mendapat penjelasan bahwa dengan dana Rp23,67 triliun ini, sampai tahun ke berapa Garuda bisa established dan tidak memerlukan bantuan tambahan.”
Sorotan berikutnya menyangkut empat faktor utama yang selama ini menjadi penekan keuangan Garuda. Walau mengapresiasi kualitas layanan berstandar bintang lima, Semantara menilai persoalan fundamental tetap berada pada biaya operasional.
“Kerugian Garuda banyak disebabkan oleh: biaya leasing yang sangat tinggi, biaya maintenance, biaya avtur, dan fluktuasi nilai tukar dolar AS,” ujarnya.
Ia menanyakan strategi Glenny untuk mencegah pengulangan masalah tersebut. “Kira-kira Pak Dirut, untuk tahun ke depan, apabila Garuda sudah established, bagaimana antisipasi Bapak terhadap empat persoalan ini? Jangan sampai Garuda terus-menerus menghadapi masalah yang sama, terutama terkait maintenance dan biaya leasing, yang selama ini menjadi beban terbesar.”
Senantara kemudianmenyampaikan harapan agar manajemen baru membawa arah yang lebih sehat. “Harapan saya, dengan Dirut Garuda yang baru, Garuda Indonesia dapat tumbuh dan berkembang di kemudian hari,” pungkasnya.



































