Foto: Anggota Komisi VI DPR RI Dapil Bali dari Partai NasDem, yang juga Ketua DPW Partai NasDem Bali, Ir. I Nengah Senantara.
Jakarta
Komisi VI DPR RI menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, beserta jajaran manajemen di Gedung Nusantara I, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (19/11/2025). Rapat tersebut membahas Evaluasi Kinerja Perusahaan Semester I 2025, Roadmap Pengembangan dan Aksi Korporasi 2026, serta evaluasi terhadap produk Bahan Bakar Minyak (BBM).
Di tengah pemaparan manajemen Pertamina, Anggota Komisi VI DPR RI Dapil Bali dari Partai NasDem, Ir. I Nengah Senantara, melayangkan kritik tajam terkait kembali munculnya kelangkaan BBM di sejumlah daerah, terutama di Bali. Senantara menilai persoalan tersebut terus berulang dan menunjukkan lemahnya langkah antisipasi dari Pertamina.
“Sering saya sampaikan, kenapa masih terus terjadi kelangkaan BBM? Bahkan satu minggu lalu, Bali sampai antre di mana-mana. Ini menunjukkan Pertamina tidak bekerja,” tegas Senantara dalam rapat.
Senantara yang juga Ketua DPW NasDem Bali menilai alasan klasik yang kerap disampaikan Pertamina, yaitu gangguan cuaca, sudah tidak relevan untuk dijadikan pembenaran. Menurutnya, cuaca ekstrem seperti pancaroba merupakan fenomena yang dapat diprediksi sehingga mestinya sudah masuk dalam skema mitigasi risiko pasokan energi.
“Cuaca itu kita tahu terjadi beberapa kali dalam setahun. Mestinya sudah diantisipasi dengan baik. Jangan setiap rapat alasan ini dipakai terus,” ujarnya.
Pengusaha sukses dengan tagline Senantara Peduli Senantara Berbagi ini juga menyoroti kontribusi besar provinsinya terhadap devisa nasional. Dengan posisi strategis sebagai daerah pariwisata dunia, Senantara menilai Bali seharusnya mendapat perhatian lebih dalam penyediaan BBM.
“Bali itu daerah pariwisata yang sensitif. Kalau ada kelangkaan, dunia melihat seolah-olah Pertamina tidak bekerja,” tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama, Senantara kembali menegaskan bahwa isu kelangkaan BBM seharusnya menjadi prioritas utama pembenahan Pertamina. Ia mengingatkan bahwa kelangkaan tidak hanya menghambat mobilitas masyarakat, tetapi juga merusak citra daerah di mata internasional.
“Tadi banyak rekan-rekan berbicara soal kualitas. Saya ingin menyoroti aspek kuantitas, khususnya ketersediaan BBM di daerah. Ibu Ketua juga sudah menyampaikan bahwa sering terjadi kelangkaan BBM. Dalam rapat-rapat sebelumnya pun saya sudah menegaskan hal yang sama, terutama terkait dapil saya, Bali. Padahal Bali ini memberikan kontribusi devisa yang luar biasa bagi bangsa dan negara,” ujarnya.
Ia kembali menegaskan pertanyaan besarnya mengapa persoalan kelangkaan masih terus berulang?
“Pertanyaan yang selalu saya ajukan adalah, mengapa kelangkaan BBM masih terus terjadi? Bahkan satu minggu lalu, antrean BBM terjadi di mana-mana di Bali. Apakah kondisi ini harus terus berulang? Artinya, ada yang tidak berjalan dengan baik di Pertamina.”
Senantara kemudian meminta Pertamina menunjukkan langkah konkret untuk memastikan kejadian kelangkaan BBM tidak kembali berulang.
“Jangan sampai setiap rapat kita hanya membicarakan soal ketersediaan BBM yang terus mengalami masalah. Mohon perhatian serius dari Pertamina.”
Menurutnya, publik menilai kehadiran negara melalui Pertamina dari urusan paling mendasar, yakni memastikan energi tersedia tanpa hambatan.
“Saya tekankan lagi, Bali adalah daerah pariwisata yang sensitif. Kalau ada persoalan seperti ini, publik akan melihat Pertamina seolah-olah tidak bekerja,” pungkasnya.



































