Foto: DPW Partai NasDem Provinsi Bali saat menggelar Apel HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus menyemarakkan HUT ke-68 Provinsi Bali.
Denpasar
Senin pagi 17 Agustus 2026 di halaman Sekretariat DPW Partai NasDem Provinsi Bali, Jl. Cok Agung Tresna Nomor 25, Kota Denpasar, terasa berbeda. Barisan kader berdiri tegak, wajah-wajah penuh semangat menghadap Sang Merah Putih. Di antara langkah yang tertib dan sikap yang sempurna, semangat kebangsaan seakan menemukan kembali denyutnya.
Dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus menyemarakkan HUT ke-68 Provinsi Bali, keluarga besar Partai NasDem se-Bali menggelar Apel Kemerdekaan dengan penuh khidmat, disiplin, dan kebersamaan.
Sejak pagi, jajaran pengurus, kader, hingga simpatisan telah memadati halaman sekretariat. Perwakilan DPD NasDem dari seluruh kabupaten/kota di Bali hadir bersama jajaran Pengurus DPW NasDem Bali dan organisasi sayap partai, termasuk Garda Pemuda NasDem.
Barisan yang rapi menjadi gambaran sederhana tentang sebuah kebersamaan. Tidak hanya berdiri dalam satu lapangan, mereka membawa semangat yang sama: menjaga persatuan, merawat kebangsaan, dan terus menghadirkan pengabdian bagi Indonesia dan Bali.
Apel berlangsung tertib dan penuh kekhidmatan. Setiap rangkaian upacara dijalani dengan sikap sempurna, mencerminkan kedisiplinan sekaligus penghormatan terhadap perjuangan para pahlawan yang telah meletakkan fondasi kemerdekaan bangsa.
I Gusti Ngurah Bagus Eka Subagiartha (Gus Eka), pengurus DPW Partai NasDem Bali, bertindak sebagai Komandan Upacara. Dengan ketegasan dan wibawa, ia memimpin jalannya apel sekaligus membawa pesan tentang pentingnya menjaga semangat perjuangan di tengah perjalanan bangsa yang terus berubah.
Dalam pesannya, Gus Eka mengajak seluruh kader menjadikan peringatan kemerdekaan bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum untuk kembali menengok perjalanan bangsa sekaligus meneguhkan tekad menghadapi masa depan.
“Peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-81 ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan momentum untuk merefleksikan kembali nilai-nilai perjuangan para pahlawan. Kita teguhkan komitmen untuk terus memberikan kontribusi terbaik bagi Indonesia, dan secara khusus bagi Bali yang kita cintai, yang kini genap berusia 68 tahun,” ujar Gus Eka.
Menurutnya, kemerdekaan harus terus diisi dengan kerja nyata, kepedulian, persatuan, dan pengabdian. Ia berharap di usia ke-81 tahun, Indonesia semakin kuat, berdaulat, adil, dan makmur.
“Persatuan harus terus kita jaga. Perbedaan bukan alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk melangkah bersama. Semangat kemerdekaan harus menjadi energi bagi seluruh anak bangsa untuk berkarya dan memberikan yang terbaik bagi negeri,” ujarnya.
Sementara bagi Bali yang memasuki usia ke-68 tahun, Gus Eka berharap pembangunan terus bergerak maju dengan tetap berpijak pada jati diri Pulau Dewata. Kemajuan, menurutnya, harus berjalan beriringan dengan kesejahteraan masyarakat, pelestarian alam, serta penghormatan terhadap adat, budaya, dan tradisi Bali.
“Harapan kami, Bali semakin maju dan masyarakatnya semakin sejahtera, tetapi tetap teguh menjaga adat, budaya, tradisi, serta alamnya. Kemajuan jangan sampai membuat kita kehilangan jati diri. Bali harus terus tumbuh dengan keseimbangan, dengan pembangunan yang memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat,” kata Gus Eka.
Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan momentum HUT RI dan HUT Provinsi Bali sebagai ruang untuk memperkuat gotong royong dan kebersamaan.
“Indonesia adalah rumah kita bersama, Bali adalah tanah yang kita cintai. Mari kita isi kemerdekaan ini dengan karya, kepedulian, persatuan, dan semangat untuk membangun masa depan yang lebih baik,” pungkasnya.
Apel kemudian ditutup dengan doa bersama. Pekik kemerdekaan menggema, memecah keheningan pagi dan menghidupkan kembali pesan sederhana yang diwariskan para pendahulu: bahwa kemerdekaan bukanlah garis akhir, melainkan amanah yang harus terus diisi dengan kerja, kepedulian, dan pengabdian.
Di halaman sekretariat itu, Merah Putih bukan hanya berkibar di tiang bendera. Ia seakan berkibar pula di dada setiap kader yang hadir.
Semangat nasionalisme dan restorasi untuk Indonesia dan Bali tercinta pun diteguhkan kembali—bahwa perjuangan tidak pernah benar-benar selesai, selama masih ada cita-cita untuk membuat negeri ini lebih baik.



































