Foto: Wakil Bupati Karangasem, Pandu Prapanca Lagosa saat membuka Tenganan Pegringsingan Culture Festival (TPCF) ke-5 Tahun 2026 di Desa Tenganan Pegringsingan, Kecamatan Manggis, Selasa (9/6/2026).
Karangasem
Wakil Bupati Karangasem, Pandu Prapanca Lagosa atau yang akrab disapa Guru Pandu, secara resmi membuka Tenganan Pegringsingan Culture Festival (TPCF) ke-5 Tahun 2026 di Desa Tenganan Pegringsingan, Kecamatan Manggis, Selasa (9/6/2026).
Festival budaya yang menjadi salah satu agenda unggulan Kabupaten Karangasem ini berlangsung selama tiga hari, hingga 11 Juni 2026. Tahun ini, festival mengangkat tema “Merajut Warisan, Memaknai Tradisi” dengan subtema “Menjaga Sakralitas, Merawat Warisan Leluhur”.
Kehadiran Wabup Guru Pandu dalam pembukaan festival menjadi bukti komitmen Pemerintah Kabupaten Karangasem dalam menjaga, melestarikan, dan mengembangkan kekayaan budaya lokal sebagai bagian penting dari pembangunan daerah yang berkelanjutan.
Dalam sambutannya, Guru Pandu menegaskan bahwa tradisi dan warisan budaya yang dimiliki Desa Tenganan Pegringsingan tidak hanya perlu dipertahankan secara seremonial, tetapi juga diwariskan kepada generasi muda agar tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman.
Menurutnya, tradisi Geret Pandan (Mekare-kare) serta kain Geringsing yang terkenal dengan teknik tenun double ikat merupakan kekayaan budaya yang memiliki nilai historis, spiritual, dan ekonomi yang sangat tinggi.
“Warisan budaya ini harus terus dikenalkan dan diwariskan kepada generasi muda agar tidak hanya menjadi simbol, tetapi benar-benar dipahami, dilestarikan, dan menjadi kebanggaan masyarakat Karangasem,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa budaya merupakan identitas daerah yang memiliki daya tarik kuat bagi sektor pariwisata. Jika dikelola dengan baik, pelestarian budaya dapat menjadi penggerak ekonomi yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat lokal.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Karangasem, Putu Eddy Surya Artha, menjelaskan bahwa penyelenggaraan festival ini merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak, mulai dari Pemerintah Kabupaten Karangasem, Desa Adat Tenganan Pegringsingan, pelaku UMKM, komunitas seni, hingga kalangan akademisi.
Beragam kegiatan disiapkan untuk memeriahkan festival, mulai dari pembukaan yang dirangkaikan dengan penyerahan bantuan sembako kepada masyarakat, pelaksanaan tradisi sakral Daha Mayunan dan Geret Pandan (Mekare-kare), hingga lomba mewarnai tingkat taman kanak-kanak dan lomba tari Bali tingkat SMP.
Selain itu, pengunjung juga dapat mengikuti workshop yang mengupas motif dan filosofi kain Geringsing, menyaksikan pameran arsitektur khas Tenganan Pegringsingan hasil kolaborasi dengan Universitas Warmadewa, serta menikmati pameran produk desa wisata dan UMKM unggulan Kabupaten Karangasem.
Tak hanya itu, berbagai pertunjukan seni budaya dan hiburan rakyat turut dihadirkan untuk memberikan pengalaman yang lebih dekat dengan kehidupan dan tradisi masyarakat Bali Aga yang masih terjaga hingga kini.
Melalui festival ini, Pemerintah Kabupaten Karangasem berharap dapat menghadirkan pengalaman wisata budaya yang autentik sekaligus mendorong peningkatan kunjungan wisatawan. Keterlibatan pelaku UMKM dan ekonomi kreatif juga diharapkan mampu memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat.
Dengan kekayaan tradisi yang dimiliki serta dukungan berbagai pihak, Tenganan Pegringsingan Culture Festival diproyeksikan terus berkembang sebagai salah satu ikon wisata budaya unggulan Karangasem yang digelar secara rutin dan berkelanjutan, sekaligus menjadi etalase pelestarian warisan leluhur Bali kepada dunia.



































