Foto: Wakil Ketua DPW Bidang Kaderisasi dan Pendidikan Politik, I Kadek Eggy Segel.
Denpasar
Di tengah dinamika politik yang terus berubah dan tantangan demokrasi yang semakin kompleks, DPW Partai NasDem Bali menegaskan bahwa literasi politik bagi generasi muda menjadi salah satu agenda strategis yang terus didorong.
Wakil Ketua DPW Bidang Kaderisasi dan Pendidikan Politik, I Kadek Eggy Segel, mengatakan, keterlibatan aktif generasi muda tidak bisa lagi sekadar dipandang sebagai partisipasi tambahan, tetapi menjadi penentu arah kemajuan bangsa. Ia menilai bahwa anak muda harus memahami bahwa apatisme politik justru dapat membawa dampak buruk bagi masa depan negeri.
“Ya, anak muda sebagai agen perubahan, agent of change, tentu tidak boleh apatis terhadap politik, apalagi partai politik, karena menurut teori, jika sebuah bangsa belum mencapai titik kemerdekaannya yang ke-100 tahun, bangsa itu bisa menjadi bangsa yang balkan atau bangsa yang hancur,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa salah satu penyebabnya adalah jika generasi mudanya tidak melek politik dan tidak memahami bahwa setiap aspek kehidupan memiliki hubungan erat dengan keputusan politik.
“Tentu ini disebabkan karena generasi mudanya, penerusnya, tidak elek terhadap politik, bahwa apa setiap tindak tanduknya yang mereka lakukan itu semua berhubungan dengan politik,” lanjutnya.
NasDem Bali, kata Eggy, berupaya hadir memberikan dorongan kesadaran tersebut. Ia menegaskan bahwa partai ingin mengambil langkah konkret untuk membangkitkan kesadaran generasi muda Bali agar terlibat lebih aktif dalam proses politik. Kesadaran itu dianggap penting karena politik memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat di masa depan, sehingga anak muda perlu memahami dan mengambil bagian di dalamnya.
“Jadi, kami di NasDem Bali ingin memberikan, sebuah langkah kecil memberikan kesadaran bagi generasi muda Bali untuk turut aktif terlibat dalam setidaknya sadarlah bahwa politik itu hal yang penting dan berpengaruh terhadap kehidupan kita di masa depan,” tegasnya.
Sebagai partai yang mengusung politik tanpa mahar dan gagasan restorasi, NasDem Bali menilai bahwa demokrasi di Bali masih menghadapi tantangan serius. Minimnya keberanian publik untuk menyampaikan pendapat dan masih kuatnya kultur politik biaya tinggi menjadi persoalan yang harus ditangani secara sistematis.
Eggy menyebut bahwa pendidikan politik harus menjadi langkah awal dalam memperbaiki ekosistem demokrasi tersebut.
“Kami berharap pendidikan politik bisa menjadi langkah kecil yang memberi dampak besar bagi dinamika demokrasi di Bali. Selama ini, masyarakat Bali cenderung enggan bersuara, tetapi kami ingin mendorong agar mereka berani menyampaikan pendapat,” katanya.
Ia menilai bahwa politik biaya tinggi sering membuka ruang bagi munculnya praktik-praktik tidak sehat, termasuk korupsi. Karena itu, NasDem Bali mendorong terciptanya politik berbiaya rendah. Politik yang high cost dinilai cenderung meningkatkan potensi korupsi, karena besarnya biaya kontestasi sering memicu kebutuhan untuk mengembalikan modal politik setelah pemilu. Dengan menekan biaya politik, ekosistem demokrasi diharapkan menjadi lebih sehat dan berintegritas.
“Selain itu, kami juga ingin mendorong terciptanya politik yang low cost di Bali. Sebab ketika politik menjadi high cost, biasanya, meskipun tidak selalu terbukti secara ilmiah, kita bisa melihat kecenderungannya: biaya politik yang tinggi sering berbanding lurus dengan meningkatnya potensi korupsi,” jelasnya.
Karena itu, NasDem Bali menegaskan komitmennya untuk terus mendorong politik tanpa mahar dan restorasi politik di Bali.
“Inilah semangat yang terus kami dorong di Partai NasDem, visi politik tanpa mahar dan upaya merestorasi praktik politik di Bali agar menjadi lebih bersih, transparan, dan berintegritas,” pungkasnya.



































