Foto: Ketua Bapilu DPW Partai NasDem Bali, Anak Agung Ngurah Gede Widiada, saat menghadiri peluncuran dan bedah buku Singgasana Battisi Takhta 32 Bidadari karya Prof. Gautam Kumar Jha.
Denpasar
Auditorium DPW Partai NasDem Bali menjadi tuan rumah Diskusi dan Bedah Buku Singgasana Battisi Takhta 32 Bidadari karya Prof. Gautam Kumar Jha, pakar Studi Asia Tenggara dari Jawaharlal Nehru University, New Delhi, India. Acara ini turut menghadirkan tokoh publik sekaligus Anggota DPRD Provinsi Bali, Dr. Somvir, serta sejumlah akademisi, tokoh spiritual, dan politisi lintas partai.
Ketua Bapilu DPW Partai NasDem Bali, Anak Agung Ngurah Gede Widiada, menegaskan bahwa gedung NasDem Bali memang terbuka bagi semua pihak yang berniat menggelar kegiatan positif. “Ketum Surya Paloh selalu mengingatkan, gedung ini diperuntukkan bagi masyarakat Bali, bukan semata urusan partai,” ujarnya.
Widiada menilai, Singgasana Battisi memuat pesan kuat tentang keteladanan, kejujuran, serta nilai-nilai filosofis yang relevan dalam politik modern. Ia berharap kader NasDem Bali dapat menjadikan isi buku ini sebagai pedoman, khususnya dalam menjaga etika, moral, dan budaya malu di tengah persaingan politik. “Kita ingin politik dijalankan dengan etika dan moral, sebagaimana ditekankan Pak Surya Paloh dalam Rakernas di Sulawesi,” tegasnya.
Diskusi ini dipandu akademisi dan penulis asal Bali, Dr. Ni Kadek Surpi Arya Dharma, yang menyebut buku karya Prof. Gautam ini sebagai literatur politik dan kepemimpinan yang dikemas dalam bentuk cerita. “Meski bergaya fiksi, isi buku ini sejatinya sarat ajaran politik dan kepemimpinan. Nilai-nilainya relevan bagi semua pihak, lintas partai sekalipun,” ujarnya.
Prof. Gautam menjelaskan, Singgasana Battisi mengupas kisah Raja Vikramaditya—figur legendaris India yang memadukan keberanian, kebijaksanaan, dan keadilan. Kisah ini bukan sekadar legenda, tetapi juga kristalisasi nilai-nilai politik, sosial, dan budaya yang pernah menjadi fondasi kejayaan India kuno. “Cerita bukan hanya hiburan, tetapi sarana pembentukan cara pandang, penanaman nilai, dan inspirasi bagi generasi mendatang,” katanya.
Ia menambahkan, nilai-nilai yang melekat pada sosok Vikramaditya—integritas, keberanian menghadapi risiko, perlindungan terhadap seni dan ilmu—tetap relevan di era modern. “Saya melihat Bali memiliki banyak kesamaan dengan India kuno, seperti disebutkan dalam Mahabharata dan Ramayana,” ungkapnya.
Acara ini dibuka tokoh spiritual Hindu, Ida Pandita Mpu Acharya Jaya Daksa Vedananda, dan dihadiri berbagai kalangan, mulai dari pengurus PHDI Bali, akademisi Universitas Udayana dan ISI Denpasar, hingga politisi dari NasDem dan Perindo. Diskusi menghadirkan ruang dialog lintas profesi, memadukan khazanah sastra klasik dengan tantangan politik kontemporer, sekaligus mengingatkan bahwa etika dan moralitas adalah fondasi utama kepemimpinan yang berintegritas.



































