Foto: Wakil Bupati Karangasem, Pandu Prapanca Lagosa, saat menghadiri Rapat Koordinasi dan arahan Bupati tentang Percepatan Pelaksanaan Gerakan Bali Bersih Sampah (GBBS) yang digelar Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Karangasem di Ballroom Mall Pelayanan Publik.
Karangasem
Wakil Bupati Karangasem, Pandu Prapanca Lagosa, menegaskan pentingnya kolaborasi dan komitmen dalam menangani persoalan sampah. Hal itu disampaikannya saat menghadiri Rapat Koordinasi dan arahan Bupati tentang Percepatan Pelaksanaan Gerakan Bali Bersih Sampah (GBBS) yang digelar Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Karangasem di Ballroom Mall Pelayanan Publik.
Dalam pemaparannya, Wabup Pandu mengungkap fakta bahwa Karangasem setiap hari menghasilkan 281 ton sampah, dengan lebih dari 60% di antaranya berasal dari rumah tangga. Kondisi ini menjadi tantangan besar setelah penutupan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Butus dan Linggasana. “Pengelolaan sampah harus dimulai dari sumbernya. Kita tidak bisa lagi mengandalkan TPA,” tegasnya.
Ia mendorong seluruh pihak untuk mencontoh keberhasilan sejumlah desa seperti Sengkidu, Tumbu, dan Nongan yang dinilai mampu mengelola Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R) meski masih menghadapi kendala di lapangan. Menurut Pandu, keberhasilan pengelolaan sampah setidaknya ditopang oleh lima faktor kunci: kejelasan anggaran, aturan atau pararem yang mengikat, sinergi antara pemerintah desa dan adat, komitmen pemimpin desa, serta kerja sama dengan pihak rekanan dalam proses akhir pengolahan.
Wabup Pandu juga mendorong integrasi TPS3R dengan konsep Tebe Modern, yang dinilai efektif mengelola sampah sejak dari sumbernya. Ia mengingatkan pentingnya menghindari kebiasaan membakar sampah, dan untuk itu diperlukan penyediaan incinerator yang representatif.
Tidak hanya mengajak desa dan adat, Pandu juga menantang seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) di Karangasem untuk menjadi teladan. “Kami tidak ingin hanya memerintah kepada perbekel dan krama adat, tapi kita mulai dari ASN sebagai contoh dengan membangun Tebe Modern di rumah masing-masing,” ujarnya.
Mengakhiri sambutannya, Wabup Pandu menegaskan bahwa pengelolaan sampah bukan sekadar urusan teknis, melainkan bagian dari ajaran Tri Hita Karana. Ia mengajak seluruh Bendesa Adat, Perbekel, Camat, dan Lurah untuk menjadikan kebersihan lingkungan sebagai wujud bhakti kepada alam semesta. “Sesuai wejangan leluhur dan sastra, bumi adalah ibu kita. Kita tidak pantas mengotori Ibu Pertiwi,” pungkasnya.



































