Foto : Anggota Komisi VI DPR RI, yang juga Ketua DPW Partai NasDem Bali, Ir. I Nengah Senantara.
Denpasar
Pemadaman listrik total atau blackout yang baru-baru ini melanda Bali bukan sekadar gangguan teknis, melainkan sinyal bahaya serius bagi masa depan energi di pulau yang menjadi andalan pariwisata nasional ini. Anggota Komisi VI DPR RI, Ir. I Nengah Senantara, angkat bicara lantang, mendesak agar Pemerintah Pusat dan Daerah segera bertindak.
“Bali ini bukan cuma pulau kecil, tapi simbol budaya, toleransi, dan penyumbang devisa besar. Masa listrik saja masih bergantung dari luar?” tegas Senantara, legislator NasDem asal Bali yang juga dikenal lewat program sosial Senantara Berbagi, Senantara Peduli.
Senantara menyebut Bali menyumbang hampir Rp100 triliun per tahun dari sektor pariwisata untuk devisa nasional. Namun, status strategis itu belum diiringi kebijakan nasional yang memadai, khususnya di bidang energi.
Dalam pernyataannya, ia meminta perhatian khusus dari Presiden Prabowo Subianto agar menjadikan Bali sebagai kawasan strategis nasional bidang energi, bukan sekadar destinasi wisata semata. “Jangan sampai kita terus bergantung pada pasokan listrik dari Jawa. Ini rentan, apalagi kebutuhan energi makin meningkat,” ujarnya.
Lebih lanjut, Senantara mendesak agar pemerintah membangun pembangkit listrik mandiri di Bali dan mengajak seluruh kepala daerah, Gubernur, Bupati, hingga Wali Kota, untuk bergerak cepat menciptakan lompatan strategis menuju kemandirian energi.
Ia juga membeberkan sederet masalah mendesak yang harus diselesaikan:
- Krisis listrik (blackout dan pemadaman bergilir).
- Krisis air bersih karena pertumbuhan penduduk dan pariwisata.
- Persoalan sampah yang belum tertangani optimal.
- Jalan pariwisata rusak dan menyebabkan kemacetan.
“Bali tidak boleh hanya jadi ikon, tapi harus dijaga fondasinya. Kalau listrik, air, dan jalan bermasalah, pariwisata kita bisa kolaps. Mari kita bangkitkan Bali agar tetap menjadi pulau kecil yang cantik, ramah, dan memesona di mata dunia,” tutupnya.
Dengan tekanan publik dan urgensi krisis yang nyata, seruan Nengah Senantara kini menanti respons nyata dari pusat hingga daerah.



































