Foto: Anggota Komisi VI DPR RI Daerah Pemilihan (Dapil) Bali dari Fraksi Partai NasDem, Ir. I Nengah Senantara.
Jakarta
Anggota Komisi VI DPR RI Daerah Pemilihan (Dapil) Bali dari Fraksi Partai NasDem, Ir. I Nengah Senantara, melontarkan kritik tajam terkait fasilitas layanan di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai hingga tingginya harga tiket pesawat domestik. Sorotan tersebut disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VI DPR RI bersama Direktur Utama PT Angkasa Pura Indonesia di Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (3/9/2026).
Rapat yang membahas evaluasi kinerja korporasi tahun 2025 serta rencana kerja dan roadmap tahun 2026 tersebut menjadi ajang bagi Senantara untuk menyampaikan berbagai keluhan penumpang. Salah satu yang menjadi perhatian utamanya adalah fasilitas dasar bandara, khususnya kebersihan toilet di area keberangkatan domestik yang dinilai sangat mengecewakan.
“Fasilitasnya mengecewakan, kadang airnya mati dan bau pesing. Baunya sangat tidak nyaman,” ujar Senantara di hadapan direksi PT Angkasa Pura Indonesia.
Tidak hanya masalah fasilitas fisik, Senantara juga mengkritik sikap Sumber Daya Manusia (SDM) atau petugas di area kedatangan internasional Bandara Ngurah Rai, khususnya pada alur pemeriksaan declare dan undeclare setelah proses imigrasi. Menurutnya, perlakuan petugas terhadap wisatawan maupun penumpang yang masuk ke Bali masih kurang humanis dan cenderung intimidatif.
“SDM kita masih kurang humanis, jadi seolah-olah penumpang yang masuk ke Bali, terutama di internasional, itu jadi penjahat semua. Cara memperlakukannya, baik dari pandangan mata maupun gerak tubuh terhadap penumpang, masih perlu diperbaiki,” tegas Senantara yang juga Ketua DPW Partai NasDem Provinsi Bali itu.
Selain masalah pelayanan bandara, Senantara menyinggung persoalan harga tiket pesawat domestik Indonesia yang memprihatinkan karena menempati urutan termahal kedua di dunia setelah Brasil. Ia meminta PT Angkasa Pura Indonesia melakukan efisiensi pada komponen biaya yang berkontribusi terhadap besarnya tarif tiket, seperti Passenger Service Charge (PSC) atau airport tax.
Ia juga mempertanyakan ketimpangan harga tiket di dalam negeri tanpa perlu membandingkannya jauh ke negara lain, melainkan cukup melihat perbandingan tarif antara Garuda Indonesia dan Citilink yang dinilainya sangat tinggi meski memiliki kapasitas atau fasilitas kursi yang mirip. Hal ini menurutnya menjadi PR besar bagi manajemen Angkasa Pura untuk menekan komponen biaya operasional agar tarif tiket bisa lebih terjangkau.
Guna meningkatkan standar pelayanan secara menyeluruh, Senantara mendorong manajemen Angkasa Pura untuk mengadopsi sistem smart airport yang diterapkan oleh Singapura. Ia menyarankan agar direksi membawa tim untuk mempelajari secara langsung bagaimana teknologi dan SDM di Singapura mampu memberikan kepuasan maksimal hingga konsisten meraih predikat bandara bintang lima.
“Kalau kita mau belajar sistem smart airport, tidak usah jauh-jauh, cukup terbang 30 menit ke Singapura. Teknologinya luar biasa maju, SDM-nya tidak kalah. Ajak semua tim ke sana untuk menyaksikan langsung,” usulnya.
Di akhir pandangannya, Senantara berharap agar langkah perbaikan servis dan penyesuaian biaya ini dapat segera direalisasikan demi kenyamanan masyarakat Indonesia. Pengguna jasa penerbangan diharapkan bisa mendapatkan tarif tiket yang memadai serta sebanding dengan kualitas layanan yang diterima.



































