Foto: Ilustrasi masyarakat memilah sampah.
Denpasar
Kesadaran masyarakat Kota Denpasar dalam mengelola sampah berbasis sumber terus menunjukkan peningkatan signifikan. Kondisi ini mendapat apresiasi dari Anggota DPRD Kota Denpasar Fraksi Partai NasDem, I Wayan Gatra, yang menilai perubahan pola pikir masyarakat menjadi modal penting dalam mewujudkan kota yang bersih dan berkelanjutan.
Hal tersebut disampaikan Wayan Gatra saat diwawancarai terkait kesiapan Kota Denpasar menjelang penutupan bertahap TPA Suwung. Sesuai kebijakan yang telah ditetapkan, mulai 1 April 2026 TPA Suwung hanya menerima sampah residu, sementara sampah organik dan sampah campuran tidak lagi diperbolehkan masuk. Selanjutnya, TPA Suwung dijadwalkan ditutup total pada 1 Agustus 2026.
Menurut Wayan Gatra, langkah yang dilakukan Pemerintah Kota Denpasar bersama seluruh elemen masyarakat patut diapresiasi karena mulai menunjukkan hasil nyata di lapangan. Ia menilai, masyarakat kini semakin sadar untuk memilah sampah sejak dari rumah tangga, sekaligus aktif mendukung berbagai program lingkungan yang dijalankan pemerintah.
“Ini menjadi perkembangan yang sangat positif. Kesadaran masyarakat Denpasar dalam memilah dan mengelola sampah sudah mulai tumbuh secara kolektif. Ini bukan pekerjaan mudah, tetapi perlahan berhasil dibangun melalui edukasi yang berkelanjutan,” ujarnya.
Berdasarkan data monitoring dan evaluasi pengelolaan sampah Kota Denpasar per 7 Mei 2026 pukul 20.00 WITA, sebanyak 55.986 responden atau sekitar 30 persen kepala keluarga di Kota Denpasar telah mengikuti survei real time pengelolaan sampah. Dari jumlah tersebut, sebanyak 48.628 rumah tangga atau sekitar 87 persen mengaku telah melakukan pemilahan sampah langsung dari sumbernya.
Tak hanya itu, sebanyak 44.051 rumah tangga atau sekitar 79 persen juga tercatat telah mengelola sampah organik secara mandiri. Capaian tersebut dinilai menjadi indikator meningkatnya kepedulian warga terhadap lingkungan dan pentingnya pengelolaan sampah dari hulu.
Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara mengatakan, capaian tersebut menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah dari rumah tangga sudah berada pada arah yang baik, meskipun masih perlu terus ditingkatkan melalui edukasi dan pengawasan berkelanjutan.
“Ini menunjukkan kesadaran masyarakat dalam memilah dan mengelola sampah dari sumber sudah sangat baik. Namun tentu masih perlu terus ditingkatkan,” ujar Jaya Negara.
Meski demikian, Pemkot Denpasar masih mencatat sekitar 7.349 responden atau 13 persen rumah tangga belum melakukan pemilahan sampah. Karena itu, penguatan edukasi di tingkat banjar, desa adat, sekolah, hingga komunitas masyarakat akan terus dilakukan agar partisipasi warga semakin merata.
Secara umum, tingkat pengelolaan sampah di Kota Denpasar juga tergolong tinggi. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), tingkat sampah terkelola di Denpasar pada 2025 mencapai 95,26 persen atau sekitar 359.217,66 ton per tahun. Sedangkan sampah yang belum terkelola tercatat sekitar 17.858,06 ton per tahun atau 4,74 persen dari total timbulan sampah.
Namun di sisi lain, volume sampah di Kota Denpasar masih terus mengalami peningkatan. Pada 2025, timbulan sampah mencapai sekitar 1.004 ton per hari atau setara 366.806,75 ton per tahun. Jumlah tersebut diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 1.033 ton per hari pada 2026.
Tantangan tersebut mendorong Pemkot Denpasar terus memperkuat pengelolaan sampah berbasis sumber melalui penggunaan teba vertikal dan komposter di tingkat rumah tangga. Sepanjang 2025 tercatat tersedia 5.877 teba vertikal dan 12.649 komposter bag dengan kapasitas pengolahan mencapai 31,84 ton per hari.
Sementara pada 2026, dukungan kembali meningkat dengan tambahan 4.062 teba vertikal dan 176.413 komposter bag yang diproyeksikan mampu mengolah sampah hingga 189,168 ton per hari. Program pengelolaan sampah mandiri juga telah diterapkan di 248 sekolah dan 37 perangkat daerah di Kota Denpasar.
Wayan Gatra menilai keberhasilan tersebut tidak terlepas dari konsistensi pemerintah dalam membangun budaya baru di tengah masyarakat. Menurutnya, sampah kini mulai dipandang bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan tanggung jawab bersama yang harus dikelola sejak dari sumbernya.
Ia juga mengapresiasi keterlibatan desa adat, komunitas lingkungan, dan generasi muda yang dinilai memiliki peran besar dalam menggerakkan perubahan perilaku masyarakat. Semangat gotong royong dan kepedulian sosial yang tumbuh di lingkungan warga disebut menjadi kekuatan utama menjaga kebersihan Kota Denpasar.
“Keberhasilan pengelolaan sampah tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat menjadi kunci utama agar program pengurangan sampah berjalan efektif dan berkelanjutan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Wayan Gatra optimistis Denpasar dapat menjadi contoh positif bagi daerah lain di Bali dalam membangun kesadaran lingkungan berbasis masyarakat. Menurutnya, jika konsistensi ini terus dijaga, Denpasar berpeluang menjadi kota yang semakin bersih, sehat, dan berdaya saing, sekaligus menjaga citra Bali sebagai destinasi wisata dunia yang peduli lingkungan.
Di akhir pernyataannya, Wayan Gatra mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga komitmen bersama dalam pengelolaan sampah dari sumbernya masing-masing. Ia berharap kesadaran yang mulai tumbuh saat ini tidak berhenti sebagai gerakan sementara, tetapi berkembang menjadi budaya hidup masyarakat Denpasar demi mewariskan lingkungan yang lebih baik bagi generasi mendatang.



































