Foto: Ketua Fraksi Partai NasDem DPR RI, Viktor Bungtilu Laiskodat saat mengisi kuliah tamu di Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, Senin (11/5/2026).
Jakarta
Ketua Fraksi Partai NasDem DPR RI, Viktor Bungtilu Laiskodat, menegaskan bahwa generasi muda akan menjadi penentu utama arah demokrasi Indonesia pada Pemilu 2029 mendatang.
Menurut Viktor, kekuatan politik generasi muda tidak bisa lagi dipandang sebelah mata karena komposisi pemilih pada 2029 akan didominasi oleh Gen Z dan milenial.
“Kalau gabung Gen Z dan millennials, itu 60 sampai 70 persen pemilih 2029. Kalau Gen Z tidak malas ke TPS, maka merekalah yang menentukan siapa pemenang pemilu yang akan datang,” kata Viktor saat mengisi kuliah tamu di Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, Senin (11/5/2026).
Dalam forum bertajuk ‘Legislatif Master Class: Restrukturisasi Demokrasi Indonesia Ambang Batas Pemilu dalam Pandangan Gen Z dan Partai Politik’ itu, Viktor juga mengajak anak muda untuk tidak apatis terhadap politik dan partai politik.
Ia menilai, politik adalah instrumen penting untuk menentukan arah bangsa, sehingga harus diisi oleh gagasan dan partisipasi generasi muda.
“Kalau ternyata kami-kami yang tidak benar, jangan benci politiknya. Kami saja yang digusur keluar, diganti. Tapi jangan benci partai politiknya,” ujarnya disambut antusias peserta.
Fraksi Partai NasDem, lanjut Viktor, mendorong penguatan sistem demokrasi melalui penyederhanaan partai politik dengan mengusulkan parliamentary threshold sebesar 7%.
Menurutnya, langkah tersebut ditujukan untuk menciptakan sistem politik yang lebih efektif dan stabil demi mempercepat pembangunan nasional.
“Partai NasDem menawarkan parliamentary threshold 7 persen agar lahir sistem politik yang lebih sederhana, lebih efektif, dan lebih kuat dalam membangun bangsa,” kata Viktor.
Ia bahkan menegaskan bahwa usulan tersebut bukan demi kepentingan elektoral Partai NasDem semata. NasDem siap menghadapi segala konsekuensi politik demi mendorong desain demokrasi yang dianggap lebih sehat bagi masa depan Indonesia.
“Kalau 7 persen disetujui, kemungkinan besar NasDem pun bisa tidak lolos. Tapi tidak apa-apa, selama ada pikiran baik untuk bangsa ini,” ungkapnya.
Selain membahas demokrasi dan kepartaian, Viktor juga menyoroti pentingnya visi besar pembangunan Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Indonesia memiliki posisi strategis global yang harus didukung oleh keberanian politik, riset, dan kualitas sumber daya manusia.
Di hadapan mahasiswa dan aktivis kampus, Viktor turut mendorong budaya berpikir kritis dan tradisi diskusi ilmiah sebagai fondasi kemajuan demokrasi.
“Pengetahuan berkembang karena diskusi yang kritis. Kalau tidak boleh dipertanyakan, itu dogma. Demokrasi membutuhkan anak muda yang berani berpikir dan berpartisipasi,” tukasnya.



































